Klasifikasi Pteridophyta - KINGDOM PLANTAE

Selasa, 15 Mei 2018

Klasifikasi Pteridophyta


Klasifikasi Pteridophyta

Pteridophyta terdiri dari empat kelas, yakni kelas Psilophytinae, Equisetinae, Lycopodinae, dan Filicinae.
1.      Kelas Psilophytinae (paku purba)
Psilophytinae mencakup tumbuhan paku yang masih primitif, bahkan sebagian besar jenisnya telah punah. Keprimitifan ciri ditunjukkan dengan adanya daun kecil-kecil (mikrofil) yang belum terdiferensiasi atau tanpadaun sama sekali yang disebut juga paku telanjang. Ada pula jenis paku yang belum memiliki akar danbelum diketahui gametofitnya. Spora yang dihasilkan jenis paku tersebut mempunyai bentuk dan ukuran yangsama (paku homospor).Paku purba dibedakan menjadi dua ordo, yaitu Psilophytales dan Psilotales.
a.       Ordo Psilophytales (paku telanjang)
Berupa terna, belum memiliki akar (hanya rizoid), tidak berdaun atau berdaun kecil-kecil (mikrofil), batang telah memiliki pembuluh.
-Famili : Rhyniaceae
-Spesies : Rhynia major, Zosterophylum australianum
b.      Ordo Psilotales
Berupa terna kecil, rendah, belum memiliki akar (hanya rizoid), bercabang menggarpu, mikrofil seperti sisik-sisik pada batang. Protalium telah ada, hanya berukuran beberapa sentimeter saja.
-Familia : Psilotaceae
-Spesies : Psilotum nudum, terdapat di Jawa dan Psilotum triquetrum, terdapat didaerah tropis.

2.      Kelas Equisetinae (paku ekor kuda)
Berupa terna, menyukai tempat-tempat lembab, batang dengan percabangan berkarang dan  nyata ruas-ruas batangnya. Daun kecil-kecil  seperti rambut tersusun berkarang. Sporofil berbentuk seperti gada atau kerucut pada ujung batang.Hanya terdiri atas satu ordo, yaitu ordo Equisetales. Hidup di darat atau rawa-rawa, memiliki semacam rimpang yang merayap dalam     tanah, batang berpembuluh bertipe kolateral.
-Famili : Equisetaceae
-Spesies : Equisetum debile (paku ekor kuda) ditemukan di Indonesia.
3.      Kelas Lycopodinae (paku kawat)
Batang bercabang, tumbuh tegak atau menjalar dengan percabangan menjulang ke atas. Berkas pengangkut masih sederhana. Daun seperti jarum, beberapa jenis telah menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan tiang dan jaringan bunga karang. Terdiri atas 4 ordo, yakni ordo Lycopodiales, Selaginellales, Lepidodendrales, dan Isoetales.
a.       Ordo Lycopodiales
Berupa terna, batang memiliki berkas pengangkut sederhana. Daun seperti jarum dianggap homolog dengan mikrofil dengan satu tulang daun tidak bercabang. Akar bercabang menggarpu, sporofil berbentuk segitiga sama sisi.
-Familia: Lycopodiaceae
-Spesies: Lycopodium cernuum, sering dipakai dalam pembuatan karangan bunga dan Lycopodium clavatum, serbuk spora sebagai pelapis pil agar tidak lengket.
b.      Ordo Selaginellales
Sebagian berbatang tegak, tapi juga ada yang batang mendatar, tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Daun ada dua macam, mikrofil dan makrofil, belum mengalami diferensiasi membentuk jaringan pagar dan jaringan spons. Akar tumbuh dari bagian batang yang tidak berdaun. Bersifat heterospor, protalium telah mereduksi, berukuran sangat kecil.
Contoh spesies: Selaginella wildenowii, Selaginella caudate, dan Selaginella Plana.
c.       Ordo Lepidodendrales
Paku yang tergolong ordo Lepidodendrales sekarang telah punah. Ordo Lepidodendrales
berbentuk pohon yang mencapai tinggi sampai 30 m dengan diameter batang 2 m. Daun menyerupai jarum, mempunyai lidah-lidah. Dalam daun terdapatberkas pengangkut yang sederhana. Batang telah memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder
dan terdapat meristem.
Ordo ini terdiri atas dua famili, yaitu:
1.      Famili : Sigillariaceae
Spesies : Silillaria elegans dan Gigillaria micaudi
2.      Famili : Lepidodendraceae
Spesies : Lepidodendron visculare, Lepidodenstron aculeatum, dan Lepidaostrobus major
d.       Ordo Isoetales
Ordo Isoetales berupa terna, sebagian hidup pada tanah, sebagian hidup tenggelam dalam air. Batang seperti umbi, jarang sekali bercabang menggarpu. Pada bagian atas batang terdapat daun-daun yang berujung lancip yang panjangnya mencapai 1 cm. Daun-daun kebanyakan sporofil dengan satu sporangium. Hanya daun yang letaknya paling dalam yang steril. Daun yang letaknya lebih dalam merupakan mikrosporofil. Isoctales terdiri atas satu famili, yaitu:
Famili : Isoctaceae
Spesies : Isoctes lacustris dan Isoctes duvieri

4.      Kelas Filicinae
Kelas Filicinae merupakan kelompok tumbuhan paku dalam pengertian sehari-hari. Menyukai habitat yang teduh dan lembab (higrofit). Berdaun besar (makrofil) dan bertangkai dengan tulang-tulang daun. Daun yang masih muda menggulung pada ujungnya. Banyak ditanam sebagai tanaman hias, misalnya paku tanduk rusa (Platycerium bifurcatum), suplir (Adi-
antum cuneatum), atau sebagai tanaman obat, seperti: Dryopteris filixmas.
Dilihat dari lingkungan hidupnya, tumbuhan paku dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yakni paku tanah, paku air, dan paku epifit.
Kelas Filicinae meliputi tiga subkelas, yaitu Eusporangiatae, Leptosporangiatae, dan Hydropterides.
a) Subkelas Eusporangiatae
Kebanyakan berupa terna, protalium di bawah tanah tidak berwarna, atau di atas tanah berwarna hijau. Protalium selalu ditumbuhi cendawan endofitik. Sporangium berdinding tebal dan kuat dengan spora-spora yang sama besar.
Subkelas Eusporangiatae terdiri dua ordo, yaitu Ophioglossales dan Marattiales.
Ordo Ophioglossales meliputi tumbuhan paku berbatang pendek dalam tanah. Daun asimilasi dan daun sporofil jelas kelihatan, berbentuk malai atau bulir keluar dari tangkai, dari pangkal, dari tengah,
atau dari tepi daun steril. Sporangium sama besar (homospor), bulat, tanpa annulus, berdinding kuat. Dalam mendapatkan makanan Ophioglossales bersimbiosis dengan mikoriza Dari familia Ophioglossaceae contohnya Ophioglossum vulgatum, Botrycium lunaria, terdapat di Eropa Ophioglossum reticulum, terdapat di Indonesia.
Ordo Maratttiales tumbuhan paku kelompok ini berdaun amat besar, menyirip ganda sampai beberapa kali. Sporangium berdinding tebal, tanpa annulus, terdapat di sisi bawah daun, umumnya homospor. Sporangium berlekatan membentuk sinangium. Ordo ini hanya memiliki satu famili, yaitu Marattiaceae. Contoh spesies: Christensenia aesculifo-lia, daun menjari, beranak daun 3, sinangium berbentuk cincin pada sisi bawah daun. Sedangkan Marattia fraxinea, daun dengan panjang sampai 2 meter, menyirip ganda, pada pangkal tangkai terdapat duri yang merupakan modifikasi daun penumpu. Angiopteris evecta (paku kedondong), paku besar, daun panjangnya mencapai 2-5 meter, menyirip ganda 2-4, anak daun menyerupai daun kedondong.
b) Subkelas Leptosporangiatae
Tumbuhan paku subkelas ini beranggotakan sekitar 90% dari total genus dalam kelas Filicinae, yang tersebar di seluruh muka bumi. Paling banyak terdapat di daerah tropis, mulai jenis paku terkecil (berukuran beberapa cm) sampai paku pohon yang berupa paku pohon, biasanya batang tanpa kambium, kekuatan batang berasal dari rangkaian berkas pengangkut yang tersusun konsentris. Kebanyakan berupa terna dengan rimpang tumbuh mendatar atau sedikit tegak, jarang bercabang. Daun muda selalu menggulung karena pertumbuhan sel-sel pada sisi bawah daun yang lebih cepat.
Petumbuhan apikal hampir tidak terbatas, anatomi daun telah menyerupai Spermatophyta dengan diferensiasi, adanya diferensiasi membentuk jaringan tiang dan jaringan bunga karang. Tulang daun bercabang-cabang dengan berbagai macam pola sebagai salah satu dasar klasifikasi. Kadang-kadang sebagian daun tertutup oleh semacam sisik yang dinamakan palea. Umumnya sporofil mempunyai bentuk yang sama dengan trofofil, sporangium terdapat di sisi bawah daun. Sporangium terkumpul menjadi sorus yang bentuknya bermacam-macam. Sporangium muncul dari penonjolan jaringan daun yang dinamakan plasenta atau reseptakulum. Sebelum masak, sorus tertutup oleh selaput yang dinamakan indusium. Sistem pertulangan daun, susunan sporangium, bentuk dan letak sorus, ada tidaknya indusium merupakan cirri pengenal yang penting dan dipakai sebagai dasar klasifikasi. Semua paku Leposporangiatae bersifat homospor. Protalium berukuran beberapa sentimeter saja dengan umur terbatas.
Subkelas Leptosporangiatae terdiri dari beberapa
famili, di antaranya:
a.       Osmundaceae, contohnya yaitu Osmunda javanica, terdapat di Indonesia.
b.      Schizaeaceae, contohnya yaitu Schizaea digitata, Schizaea dichotoma, terdapat di In donesia. Contoh lain Lygodium circinnatum, batang membelit, daun amat panjang, tersusun menyirip.
c.       Gleicheniaceae, contoh spesiesnya yaitu Gleichenia linearis, Gleichenia leaevigata (paku andam, paku resam)Matoniaceae, contohnya Matonia pectinata, tumbuh di Kalimantan.
d.      Hymenophyllaceae, contohnya yaitu. Hymenophyllum australe, hidup di tanah atau epifit.
e.       Cyatheaceae, contohnya Cyathea javanica, Alsophila glauca (paku tiang), hidup di hutan-hutan atau di pinggir kali.
f.       Polypodiaceae, contoh spesies: Davallia trichomanoides, Nephrolepis exaltata, Aspidium filix-mas, memiliki rimpang yang dapat dipakai untuk obat (Aspidium), Asplenium nidus (paku sarang burung), Pteris ensiformis, merupakan paku tanah, Adiantum cuneatum (suplir), sebagai tanaman hias.
Subkelas Hydropterides, Subkelas ini beranggotakan tumbuhan paku yang hidup di air. Umumnya heterospor, menghasilkan makrospora dan mikrospora. Badan yang mengandung sporangium dinamakan sporokarpium.
Hydropterides meliputi dua ordo, yaitu ordo Salviniaceae dan Marsileaceae.
a.       Ordo Salviniaceae, contoh spesies:
– Salvinia natans, paku air yang mengapung, terdapat di Asia dan Eropa
– Azolla pinnata, tumbuhan kecil, lunak, bercabang-cabang, terapung di air. Daun yang terapung berfungsi untuk asimilasi, di dalamnya terdapat ruangan-ruangan berisi koloni Anabaena azollae, sejenis alga biru yang dapat mengikat nitrogen udara.
b.      Suku Marsileaceae, contoh spesies:
– Marsilea crenata (semanggi), hidup di air, berakar dalam tanah, batang merayap, daun bertangkai panjang dengan empat helai anak daun, dimanfaatkan sebagai sayuran. Menurut habitatnya tumbuhan paku dikelompokkan menjadi paku tanah, paku air, dan paku pohon.

Tidak ada komentar:

@way2themes